Melani Anggota DPRD Sambas Soroti Menu MBG “Jatah 3 Hari”, Pertanyakan Keamanan dan Kelayakan Konsumsi

 

Sambas-Anggota DPRD Kabupaten Sambas dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, Melani Astuti, menyoroti menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut sebagai “jatah 3 hari” melalui unggahan di akun media sosial pribadinya pada Selasa, 24 Februari 2026.

 

Dalam unggahannya, Melani mengaku terus melihat postingan terkait pembagian MBG tiga hari yang melintas di berandanya. Ia pun mengungkapkan kegelisahannya terhadap isi paket makanan tersebut.

Melani Anggota DPRD Sambas Soroti Menu MBG “Jatah 3 Hari”, Pertanyakan Keamanan dan Kelayakan Konsumsi


“Di beranda ku, lintas terus MBG jatah 3 hari. Aku mikirkan, dikasih jatah semangka sebesar kepala bayi satu, pisang Ambon satu, roti dua bungkus, telur rebus tiga biji,” tulisnya.

 

Menurutnya, jika paket tersebut memang diperuntukkan untuk konsumsi selama tiga hari, maka perlu diperjelas aspek keamanan dan ketahanan pangannya.

 

Beberapa pertanyaan yang ia sampaikan dalam unggahan tersebut antara lain:

 

Apakah telur rebus dengan kondisi kulit retak masih layak disimpan dan dikonsumsi hingga tiga hari?

 

Apakah semangka yang sudah dibelah dapat bertahan dan aman dikonsumsi selama tiga hari?

 

Bagaimana dengan roti yang disebut-sebut tanggal kedaluwarsanya sudah mendekati batas?

 

Untuk pisang Ambon, menurutnya mungkin masih bisa matang dalam beberapa hari, namun tetap perlu kejelasan terkait penyimpanan.

 

Melani juga meminta para ahli gizi di Kabupaten Sambas untuk memberikan penjelasan ilmiah agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

 

“Tolonglah ahli gizi yang ada di kotaku, Kabupaten Sambas, jelaskan!” tulisnya dalam unggahan tersebut.

 

Atas unggahan tersebut, kolom komentar pun ramai. Sejumlah netizen menyampaikan dukungan terhadap sikap Melani yang dinilai berani menyuarakan keresahan masyarakat. Mereka meminta agar kualitas dan keamanan menu MBG benar-benar diawasi secara ketat.

 

Namun, tidak sedikit pula komentar dari netizen yang mengaku sebagai orang tua siswa. Mereka menyampaikan keluhan terkait kondisi makanan yang diterima anak-anaknya, mulai dari kekhawatiran soal daya tahan makanan hingga ketepatan nilai gizi jika harus dikonsumsi selama tiga hari.

 

Diskusi di media sosial tersebut pun semakin meluas dan memicu perhatian publik terhadap standar gizi, keamanan pangan, serta mekanisme distribusi dalam program MBG di Kabupaten Sambas.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara program MBG di Kabupaten Sambas terkait menu yang dimaksud dalam unggahan tersebut.

 

Tim. Redaksi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *