Belum Dibayar Rp9 Juta, Supplier Bongkar Dugaan Masalah Pembayaran Proyek Jembatan Bailey di Tanah Hitam

Sambas — Infocybernusantara.my.id

 

Dugaan persoalan pembayaran kembali mencuat dalam proyek pembangunan jembatan Bailey (rangka baja) tahun anggaran 2024 di Desa Tanah Hitam, Kecamatan Paloh. Seorang supplier material mengaku belum menerima pelunasan pembayaran meski material telah digunakan di lapangan,Selasa (17/02/2026)

Najiri, yang menyebut dirinya sebagai penyedia material proyek, mengungkapkan hingga kini pembayaran senilai sekitar Rp9 juta belum juga diselesaikan oleh pihak kontraktor pelaksana. Material tersebut, kata dia, disuplai untuk mendukung pekerjaan jembatan Bailey yang dikerjakan bersamaan dengan proyek jembatan lain di wilayah Liku.
“Barang sudah saya kirim dan dipakai untuk pekerjaan proyek. Tapi sampai sekarang pembayaran belum saya terima. Nilainya sekitar Rp9 juta dan belum ada kepastian kapan dibayar,” ujar Najiri kepada wartawan.
Ia menyebut kontraktor yang bertanggung jawab berinisial Iy. Menurut Najiri, komunikasi telah dilakukan berulang kali, namun tidak pernah berujung pada kejelasan jadwal pembayaran. Kondisi ini dinilai memberatkan pihak supplier, terlebih modal yang digunakan berasal dari dana pribadi.
Yang mengkhawatirkan, Najiri menyebut persoalan serupa bukan hanya terjadi pada satu titik pekerjaan. Ia mengaku menerima informasi adanya beberapa proyek jembatan lain di wilayah Paloh, termasuk pekerjaan tahun 2025, yang diduga mengalami kendala pembayaran terhadap pihak penyedia material.
“Informasi di lapangan simpang siur. Ini bukan cuma satu kasus. Ada beberapa titik yang disebut punya masalah serupa. Ini yang perlu dibuka secara terang,” katanya.
Apabila tidak ada penyelesaian dalam waktu dekat, Najiri menyatakan akan menempuh langkah administratif dengan mendatangi Dinas PUPR Provinsi Kalimantan Barat guna meminta kejelasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek tersebut.
Ia menegaskan, pembayaran tepat waktu merupakan bagian dari tanggung jawab proyek dan berpengaruh langsung pada kepercayaan serta keberlanjutan pembangunan infrastruktur. “Kalau supplier dirugikan, rantai pekerjaan juga terganggu,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor belum memberikan tanggapan resmi. Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan demi menjaga prinsip keberimbangan dan akurasi informasi.

 

Tim red

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *